Lintas Daerah

Kisah Tiga Negeri Basudara Antara Mitos, Simbol dan Nilai

RADARINVESTIGASI.ID HALMAHERA TENGAH – Kelahiran (masyarakat) Fagogoru diketahui melalui kisah, mitos, legenda, dan sejarah yang diceritakan secara turun-temurun yang acap kali memiliki kesamaan, walau, tak bisa dipungkiri. Terkadang hadir dengan versi berbeda. Hal ini disampaikan Dosen Sosiologi FISIP UMMU Ternate, DR Herman Oesman di hadapan ratusan peserta Seminar Nasional Fagogoru di Aula Kantor Bupati Rabu, (28/3/2018).

Menurutnya, Fagogoru awalnya dikenal dengan sebutan Pnu Pitel (Bahasa yang dikenal diMaba, Patani dan Weda, Pnu = berarti Kampung dan Pitel = berarti Tiga), tiga negeri yakni Maba, Patani dan Weda sebelum hadirnya Gamrange (Bahasa Tidore, berarti = tiga kampung) yang diberikan pihak Kesultanan Tidore. Gamrange, sekalipun didaku Kesultanan Tidore sebagai upaya untuk penyesuaian wilayah yang secara administratif berada didalam lingkup kekuasaan Kesultanan Tidore, namun Gamrange memiliki otonom sendiri dan tidak diatur pihak Kesultanan Tidore. Lalu kemudian melahirkan budaya Fagogoru, yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Gamrange,” ujarnya.

Fagogoru dalam pemaknaan lebih jauh kata Oesman, merupakan suatu simbol budaya, diciptakan untuk mengapresiasikan tentang rasa sayang, rasa memiliki, rasa saling menjaga/merawat dari ketiga negeri (Maba, Patani, Weda) dimaksud Fagogoru hadir sebagai “katub pengaman” untuk mengakomodir dan menyatukan rasa rindu, rasa sayang, rasa mengingatkan, diantara ketiga saudaranya, dengan menggelar Fantene dan Fante,” jelasnya.

Oesman juga mengisahkan Fagogoru sendiri mengalami banyak tafsiran maka mitos dan sejarah. ” Kisah Fagogoru berawal dari hadirnya Syech /Datuk Maramara Amin, dan Maramara Daud, penyiar Islam di Aceh, datang dari Baghdad (Irak) datang ketiga negeri sekitar 594 tahun silam (abad ke – 5). Salah satu dari Datuk itu menikahi putri cantik dari Damuli, melahirkan 3 anak laki-laki (anak pertama Borfa/Rajo Nan Satrio, pria gagah perkasa dalam bahasa Minang anak kedua Bornabi/Rajo Nan Kasurau laki-laki yang selalu di Masjid, anak ketiga Bortanggo/Sutarajo Mauradjo, laki-laki pandai yang tak dapat ditandingi), dan seorang anak perempuan atas nama Kufa/Cut Munira, dibesarkan dipulau Makean desa Malapa.

Sementara versi lain menyebutkan kata Oesman bahwa Fagogoru berasal dari tiga negeri bersaudara yang dikenal dengan Gamrang, meliputi Maba, Patani dan Weda. Tiga putra ini berasal dari asal mulanya satu keturunan, mereka ini empat bersaudara : Mutha (putra pertama), Mutthalib (putra kedua) Muttaha (putra ketiga) dan boki moruru (Putri keempat). Keempat orang bersaudara ini pada mulanya kehidupan berawal dari Telaga Nila Weda di sinilah mereka hidup pertama kali. Namun kehidupan mereka selalu berpindah-pindah (nomaden), bukan karena kekurangan makanan tetapi untuk menghindari musuh. Jadi perpindahan mereka dari Telaga Nila sampai pada bukit yang diberi nama Samula yang berarti “awal dari kehidupan” Di tempat inilah mereka hidup dengan waktu yang cukup lama dan merasa aman dari berbagai gangguan,” tutupnya. (Ode)

Komentar Facebook
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat datang di website resmi www.radarinvestigasi.id, sebuah website pemberitaan yang terintegrasi dengan media cetak radar investigasi

Copyright © 2017 RADAR INVESTIGASI. Developed by CV. Alfajril Multimedia.

To Top