Metropolitan

Lembaga LKRI Kalimantan Barat, Terus Kawal Pekerjaan Peningkatan Jalan Tebidah-Bunyau yang Diduga Tidak Sesuai RAB

Kalbar.Radarinvestigasi.id-Menurut Tokoh Masyarakat di sekitar Desa Pelaik Keruap Hermanus dan Tokoh Masyarakat Dusun Pongga Hullu Y. Utal, melaporkan temuan dugaan pekerjaan yang tidak sesuai dengan RAB pada Pekerjaan Peningkatan jalan Tebidah-Bunyau yang menggunakan Pasir Limbah dari bekas pekerja PETI ( Pertambangan Emas Tanpa Ijin ) /Sobu kerja mas.

“Kami menduga pemakaian bahan material peningkatan jalan Tebidah-Bunyau tersebut tidak sesuai dengan Rancangan Anggaran Biaya (RAB,red) berlaku, pemakaian pasir bekas dari penambangan peti ilegal yang biasa di sebut masyarakat sekitar dengan kata sobu, itu apakah boleh..??,” ujar Y. Utal.

Saat tim dari Lembaga Informasi Data Investigasi Korupsi dan Kriminal Khusus Republik Indonesia (Lidik Krimsus RI) turun ke lapangan melihat langsung material yang digunakan memang memakai material pasir bekas tambang peti ilegal sobu kerja mas dan tidak terlihat ada material batu kerikil kelas LPA/LPC yang seharusnya digunakan, hal ini diduga tidak sesuai dengan RAB yang diperkirakan menggunakan LPA/LPB atau sirtu (pasir batu, red) urukan pilihan, terang Elisabet Etarusni ketua DPP lembaga LKRI kepada media ini.

Sementara jalan tersebut adalah akses jalan utama dan jalan Lintas antara Kabupaten Sintang-Kabupaten Melawi (Jalan Provinsi,red) bahkan satu-satunya jalan yang digunakan bagi masyarakat Kabupaten Sintang menuju ke Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau.

Ketua DPP Lidik Krimsus RI Elisabet Etarusni mengatakan, “kami sempat menanyakan material apa yang digunakan pada pengerasan jalan Sintang -Bunyau kepada salah satu pengawas dari Dinas PU Tata Ruang Bidang Bina Marga Provinsi Kalimantan Barat melalui telepon selular dan PPTK untuk di konfirmasi tetapi hingga berita ini di turunkan belum mendapat jawaban,” ujarnya.

“Jika memang ada perubahan dan lain-lain bahan yang digunakan seharusnya tim tekhnis dan perencanaan perlu mengkaji ulang penggunaan material sirtu bekas penambangan PETI kerja mas tanpa ijin tersebut, karena jalan yang digunakan saat musim penghujan akan kembali licin, becek dan sebentar saja sudah terkikis dibawa air hujan sedangkan ini adalah peningkatan yang sudah keberapa kalinya di anggarkan oleh pemerintah provinsi, seharusnya ini adalah pengerasan dan bukan menggunakan material pasir bekas tambang PETI sobu bekas kerja mas,” ungkap Elisabet.

Sementara pekerjaan Peningkatan jalan Tebidah-Bunyau tersebut dianggarkan melalui APBD Provinsi Tahun Anggaran 2019 yang dilaksanakan oleh CV. Taufik Akbar dengan pagu dana sebesar Rp.8.616.162.000,00-.

“Ke depannya kami akan tindak lanjuti temuan ini ke instansi terkait dan pelaksana proyek guna transparansi kinerja Pemerintah dalam hal ini Dinas PU Tata Ruang Bidang Bina Marga Provinsi Kalimantan Barat,” dan jika dugaan kami tersebut terkait pekerjaan jalan terjadi pelanggaran dan merugikan negara kami sebagai lembaga yang menitik beratkan kepada masalah korupsi kami tidak tebang pilih akan segera membuat laporan kepada pihak terkait untuk segera di selidiki dan di proses secara hukum,pungkas Elisabet. (irfan)

Komentar Facebook
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat datang di website resmi www.radarinvestigasi.id, sebuah website pemberitaan yang terintegrasi dengan media cetak radar investigasi

Copyright © 2017 RADAR INVESTIGASI. Developed by CV. Alfajril Multimedia.

To Top